I’m here, I’m in FISIP Brawijaya




Nah, berhubung kemaren pas OSPEK dapet tugas bikin cerpen  yaah apa salahnya di share juga disini hihihih. okefine check it out rek !! 
Bulan Juli 2013 bisa dikatan sebagai bulan glory. Iya, diterima sebagai salah satu calon mahasiswa Universitas Brawijaya memang sebuah kemenangan dan saya menang secara “bersih”. Terlebih , saat saya sadar ternyata untuk beberapa tahun kedepan saya akan menuntut ilmu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Belum terlintas memang, seperti apa kehidupan perkuliahan disana dan bagaimana keadaan sosial disana, yang jelas selintas rasa yang masih teringat sampai sekarang adalah bahagia, itu pasti.
Dari dua pilihan program studi yang saya pilih, ternyata saya diterima di pilihan pertama saya yang memang menjadi prioritas. Program Studi Ilmu Pemerintahan, not a bad choice i think. Dari 100% kebahagiaan itu, ada sekitar 10% keragu raguan, apakah kecintaan saya akan kewarganegaraan mempermudah proses kuliah saya? Atau background anak IPA dari SMA malah akan menghambat semuanya? Jawabannya belum bisa ditemukan saat itu juga tentunya.
Singkatnya, semua berjalan alhamdulilah sempurna. Ada Ospek, ada teman baru, ada pengenalan kehidupan kampus dan ada cinta (eyyaa ) . Dan ternyata, menjadi mahasiswa tidak se sederhana pemikiran saya sebelum semua ini berjalan. Menjadi mahasiswa itu serba lebih, lebih sibu, lebih mandiri, lebih dewasa dan dituntut lebih kreatif. Menjadi mahasiswa harus bisa menentukan pilihan dan bertanggungjawab penuh atas pilihan tersebut.
Setelah perkuliahan berjalan normal, semua terasa lengkap. Tugas demi tugas menyambut saya sebagai “maba”, begitu sebutan kerennya. Tidak hanya itu, ospek pun berjalan sesuai jadwal yang ditentukan panitia, dari sekian banyak jadwal ospek absensi saya nyaris sempurna karena memang “bolos” pun hanya sekali. Ini jadi bukti totalitas saya menjalani serangkaian ritual mahasiswa baru di fakultas kesayangan.
Kehidupan mahasiswa baru memang menyenangkan, apalagi saat mulai menemukan sosok sosok teman baru. Teman di kelas, teman seangkatan dan para kakak angkatan. Bicara soal kakak angkatan, ada dua pandangan dari kacamata pribadi saya untuk menilai mereka. Yang pertama mereka orang orang prefosional. Saat meng”ospek”i kita, benar-benar segala ketegasan,kebijaksanaan dan kewibawaan mereka benar-benar jadi yang utama. Namun penilaian kedua membuat penilaian pertama dipertanyakan karena memang setelah mengenal beberapa dari mereka saat diluar kampus, mereka adalah senior yang sangat bersahabat, mendidik ,ramah dan menjadikan saya teman, bukan adik tingkat yang masih dalam masa-masa dididik. Diluar , mereka bisa dijadikan orangtua disini karena mereka menasehati dan mereka melindungi.
Ada positif, ada negatif. Ada keuntungan ada kerugian dan ada suka cita ada pula duka cita. OSPEK pun memiliki istilah istilah tersebut. Ospek bukan ladang penderitaan , tapi ospek juga bukan hamparan kesenangan para mahasiswa baru yang menikmati masa-masa awal perkuliahan. Kembali pada pribadai mahasiswa baru tersebut, saya misalnya. Bukan bermaksud apatis dengan serangkaian kegiatan ospek, tapi saya menerima apapun hukuman dan perintah dari fakultas tanpa protes. Satu kata kunci yang selalu saya terpkan adalah “salah atau benar , maba akan tetap dihukum”. Jadi, apapun yang terjadi saya ospek karena saya siap dihukum, okelah karena saya menganggap semua ini akan segera berlalu seiring berjalannya waktu.
Sisi positif kegiatan ospek ini, baik ospek fakultas maupun ospek jurusan dari kacamata pribadi saya adalah dapat mempererat komunikasi antar teman teman seFISIP dan seJURUSAN, Ilmu Pemerintahan. Lantas bagaimana dengan sisi negatifnya? Sisi negatif dari kegiatan ini dimana tugas ospek berbenturan dengan tugas kuliah dari dosen, tentu ini sangat menguras otak saya rasa. Apalah daya, mengeluh tidak akan merubah apapun, JALANI itu yang bisa dilakukan.
Semoga dengan berakhirnya OSPEK ini ada hikmah yang bisa diambil, baik untuk MABA maupun untuk Panitia. Segala kekurangan dalam ospek tahun ini bisa dijadikan cerminan dalam mengadakan ospek tahun kedepannya. Mahasiswa baru tanpa ospek memang kurang sempurna, tapi segala kesempurnaan bukan datang dari ospek, tapi dari bagaimana kita sebagai mahasiswa baru mau menikmati dan menjalani dengan lapang dada segala aturan yang berlaku selama menjadi mahasiswa baru .



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trip Ala Ala ( Kuala Lumpur Part I)

This Is My New Class